Langsung ke konten utama

Pinned Post

Rekomendasi Game Simulator Kendaraan 2020 yang Tak Kalah Seru dari Sebelumnya

Sekarang, banyak sekali jenis game online bertebaran. Mulai MMORPG sampai dengan Game Simulation atau yang lebih familiar dikenal game simulator. Belakangan yang banyak dimainkan adalah game simulator yang menawarkan pengalaman melakukan aktivitas dengan simulasi. Ada yang life-simulation games, vehicle simulation, dan masih banyak lagi lainnya. Tahun 2020 ini juga banyak bermunculan game simulator yang tidak kalah seru dari sebelum-sebelumnya. Bagi yang sedang mencari rekomendasi, berikut ini akan adalah daftar game simulator patut dicoba yang pertama, Bus Simulator Indonesia Pertama datang dari Tanah Air ada yang namanya Bus Simulator Indonesia atau biasa disingkat BUSSID. Game ini cocok sekali bagi yang ingin merasakan sensasi supir bus Indonesia apalagi bila menginstall mod yang didapat dari anonytun.com, di sana Anda bisa mendapatkan banyak pilihan bus, truk dan mobil yang seru secara gratis. A da simulasi bus antarkota, antarprovinsi,  bahkan antar pulau. Karena ada fi...

Hacking dan Social Engineering? Emang Beda?


Seiring perkembangan teknologi digital, istilah hacking atau peretasan dan social engineering atau rekayasa sosial ramai diperbincangkan, menyusul kabar terkurasnya saldo sejumlah orang pada akun dompet digital mereka.

Menurut psikolog klinis dewasa, Dessy Ilsanty, social engineering tidak selalu terasosiasi dengan hal negatif.

"Social engineering adalah ketika satu orang atau sekelompok kecil orang melakukan sesuatu yang kemudian diikuti orang banyak," ujar Dessy di Jakarta, Kamis.

Sehingga social engineering sering kali dilakukan untuk memengaruhi orang, misalnya saat MRT baru beroperasi, konsep social engineering pernah menjadi ide untuk menggerakkan penumpang untuk mengantre dan menggunakan MRT.

Namun, konsep itu menjadi berbeda ketika disertai kata attack di belakangnya, yang berarti bahwa di dalam kegiatan tersebut terdapat unsur manipulasi psikologis yang dapat merugikan orang lain, seperti menguak informasi rahasia.

Menurut Dessy, semua orang bisa saja terkena social engineering dengan muatan negatif tersebut, sehingga edukasi menjadi kunci agar tidak menjadi korban dari kegiatan negatif tersebut.

"Dari anak SD sampai orang tua, dari orang kaya sampai yang miskin, laki-laki dan perempuan semua mungkin. Semua orang yang terekspos ke internet semuanya menjadi rentan," kata Dessy.

Social engineering umumnya dilakukan melalui telepon atau internet, tanpa bergantung pada sistem operasi, platform, protokol, perangkat lunak ataupun perangkat keras, pelaku hanya memanipulasi psikologis korban.

Manipulasi psikologis, menurut Dessy, dapat terjadi karena sifat dasar manusia, antara lain respirokal, ketika diperlakukan baik maka akan berlaku baik, serta komitmen dan konsistensi, kecenderungan manusia mengiyakan bantuan saat dalam keadaan terdesak.

Sementara itu, Head of Swiss German University Lab, Deputy Head of Masters Program on Information Technology, Charles Lim, menjelaskan dalam peretasan berarti sang peretas berhasil melakukan disrupsi ke sistem untuk mengambil data atau menampilkan sesuatu yang tidak seharusnya.

"Sistemnya diretas, komponen teknologi dan proses yang diserang," kata Charles.

"Peretasan sama melakukan social engineering itu beda sekali. Kalau meretas itu sistemnya, sedangkan social engineering memanfaatkan kelemahan manusia untuk mencapai tujuan," lanjut dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan ada tiga komponen dalam kemanan siber, yaitu people, process dan technology, di mana manusia menjadi komponen paling lemah dalam keamanan siber yang menjadi target pelaku kejahatan.

"Yang paling sederhana itu kita sebagai orang yang menggunakan teknologi harus mulai sadar bahwa kita menjadi target," ujar Charles.

Komentar